Templates by BIGtheme NET
Home » Geothermal » Penguatan Kelompok Masyarakat Sipil dalam Pengembangan Panas Bumi di Indonesia

Penguatan Kelompok Masyarakat Sipil dalam Pengembangan Panas Bumi di Indonesia

Lokasi Sumur Produksi KMJ. © WWF-Indonesia/Saipul Siagian

Oleh: Achmed Shahram

WWF Indonesia melalui program “Ring of Fire” dan atas dukungan pendanaan dari SIDA dan WWF Swedia berkomitmen untuk melakukan kegiatan Pengembangan Kapasitas Masyarakat Sipil dalam rangka mendukung Pengembangan Panas Bumi yang Berkelanjutan di Indonesia. Kegiatan ini dilakukan selama 3 tahun dimulai pada awal 2014 hingga akhir 2016 dengan 3 output besar yang ingin dicapai yaitu: 1) Organisasi Masyarakat Sipil lebih efektif dalam dialog kebijakan mengenai pengelolaan Sumber Daya Alam; 2) Masyarakat sipil terlibat lebih efektif mempengaruhi sektor swasta dalam pengambilan keputusan dan praktik yang terkait dengan pengelolaan sumber daya alam dan; 3) Mengaktifkan kondisi dimana keterlibatan CSOs/ CBOs meningkat.

Pemaparan dari pihak RAIN. © WWF-Indonesia/Saipul Siagian

WWF memfokuskan kegiatan ini di 3 Provinsi di Sumatera, yaitu Aceh, Jambi dan Lampung dimana saat ini sudah terbentuk 1 forum panas bumi di Aceh yaitu Aceh Geothermal Forum (AGF), 1 koalisi NGO di Lampung yaitu Rumah Kolaborasi (RuKo) dan 1 forum di Jambi yaitu Forum Energi Merangin Kerinci (Formerci). WWF bersama dengan IESR (Institute for Essential Services Reform) telah menyusun Modul Pelatihan bagi peningkatan kapasitas CSO terkait isu panas bumi dimana dalam proses penyusunannya telah dikomunikasikan dan mendapat masukan dari Pemerintah dan juga pengembang panas bumi melalui beberapa sesi diskusi yang dilakukan serta telah dilakukan uji coba dan finalisasi.

Sebagai rangkaian dari program ini, pada tanggal 9 – 10 Juni 2015, bertempat di Hotel Novotel Bogor, WWF Indonesia mengadakan “Training of Trainers” (ToT) kepada CSO yang tergabung dalam forum maupun koalisi. Training ini diisi oleh beberapa Narasumber yang berasal berbagai institusi/ lembaga dari WWF, Institute for Essential Service Reform (IESR),  ITB (akademisi), Kementerian ESDM dan Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API), agar para peserta mendapatkan informasi yang berimbang dari berbagai sudut pandang pemangku kepentingan. 

Pemaparan di depan salah satu sumur produksi. © WWF-Indonesia/Saipul Siagian

Sebagai penutup dari program pelatihan ini, Pada tanggal 11 Juni 2015, para peserta diberikan kesempatan untuk mengunjungi Pertamina Geothermal Energy (PGE) Kamojang, Garut, Jawa Barat untuk melihat secara langsung pemanfaatan tidak langsung (indirect use) energi panas bumi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dan pemanfaatan langsung (direct use) energi panas bumi yang digunakan untuk budidaya Jamur. Pihak Pertamina Geothermal Energy juga turut memperlihatkan Pusat Konservasi Elang Kamojang yang dikelola oleh PGE bekerjasama dengan RAIN, yang bertujuan untuk merehabilitasi elang yang menjadi korban perdagangan ilegal agar dapat hidup kembali di habitatnya.

Pada kunjungan lapangan ini, WWF Aceh turut mengundang perwakilan dari 1) Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh yang diwakili oleh : Ketua Komisi II, Wakil Ketua Komisi III  dan anggota Komisi III; 2) Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Aceh Besar yang diwakili oleh : Ketua DPRK Aceh Besar dan Ketua Komisi D; 3) Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Aceh yang diwakili oleh Kepala Bidang Migas dan Energi; 4) Dosen Universitas Syiah Kuala Aceh mewakili akademisi.

Tujuan diundangnya para perwakilan dari eksekutif, legislatif dan akademisi yang berasal dari Aceh adalah sebagai sarana studi bagi mereka untuk melihat bagaimana Panas Bumi dimanfaatkan dan bagaimana dampak yang ditimbulkan baik negatif maupun positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Hal ini penting untuk dilakukan karena di Provinsi Aceh, pengembangan panas bumi di Gunung Seulawah Agam, Kabupaten Aceh Besar, masih terdapat beberapa kendala sehingga belum teralisasi.

Foto Bersama tim Panas Bumi, Aceh. © WWF-Indonesia/Saipul Siagian

Diharapkan setelah pelatihan ini para peserta dapat menjadi “champion” dalam mendukung pengembangan panas bumi yang berkelanjutan serta dapat memberikan informasi panas bumi secara lebih tepat kepada CSO/CBO (Civil Society Organization/ Community Based Organisation) dan masyarakat pada umumnya yang berada di sekitar wilayah panas bumi Aceh, Lampung dan Jambi. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful